Bisnis

Pelajaran dari Nokia dan BB

(sumber: https://pixabay.com/en/ipad-mac-apple-mobile-tablet-606766/)

Menjalankan bisnis tentu saja ada pasang dan surutnya, tidak terkecuali pada perusahaan ponsel sekelas BlackBerry dan Nokia. Kedua perusahaan tersebut merupakan perusahaan kelas dunia, di mana produk-produk mereka dipasarkan ke seluruh dunia, termasuk memiliki penggemar tersendiri di Indonesia.

Nokia mengalami puncak keemasan di Indonesia, begitu pula BlackBerry atau BB, yang terkenal dengan BBM-nya. Ketika sedang di puncak kejayaannya, hampir tidak ada yang menyainginya. Perusahaan kelas dunia seperti itu, pada akhirnya mengalami gelombang surut. Popularitasnya perlahan-lahan menyusut, hingga akhirnya nyaris tidak ada lagi yang membeli produk tersebut. Bisa dikatakan, terutama BB, siklusnya sangat pendek. Tidak bisa berada di puncak berlama-lama.

Keruntuhan mereka bermula dengan masuknya Apple bersama produk iPhone-nya dan Samsung dengan produk Samsung Galaxy-nya. Nokia sempat menjual bisnis smartphone-nya ke raksasa software dunia, Microsoft. Nokia menggunakan sistem operasi Windows.

Dari sisi teknologi, sistem operasi yang dimiliki oleh Nokia tidak bisa berkembang secara luwes untuk beradaptasi dengan keinginan konsumen yang mulai berubah dengan adanya iPhone dan Samsung. Konsumen mulai berubah, karena mereka tidak mau hanya menggunakan smartphone untuk alat berkomunikasi, tapi sebagai alat untuk berselancar di dunia internet. Nokia tidak memiliki fitur tersebut, atau terlambat memasukinya. Sementara BB, meski memperkenalkan sistem push email dan BBM, juga terlambat berinovasi. Waktu itu, BB memandang enteng desain layar sentuh yang dimiliki oleh iPhone dan Samsung. Mereka tidak punya sistem seperti itu, sementara kedua pesaingnya sudah langsung masuk dengan sistem seperti itu (meski Samsung pada awalnya tidak menggunakan layar sentuh). Bentuk layar yang lebar, kemudian berinteraksi, mudah menginstall aplikasi-aplikasi baru, dan tentu saja, kemudahan berselancar di Internet, adalah fitur-fitur penting yang dimiliki oleh pesaing Nokia dan BB, dan tentu saja itulah yang diinginkan konsumen.

Di samping itu, BB dengan andalannya media komunikasi BBM, perlahan-lahan mulai tertinggal dengan kepopuleran WhatsApp, media messenger baru yang tidak memerlukan PIN dan bisa jalan di mana saja (BBM sendiri waktu itu hanya bisa dijalankan di BB, sementara WhatsApp sendiri bisa jalan di BB).

Secara organisasi bisnis, pelajaran yang dapat dipetik adalah bagaimana perusahaan bisa merespon secara cepat terhadap keinginan konsumen yang berubah secara cepat, sambil tetap menghasilkan produk yang menguntungkan perusahaan.

Jadi, pelajaran yang bisa dipetik adalah bahwa secara produk, kita harus selalu senantiasa berinovasi. Jaman berubah, dan keinginan konsumen berubah. Ada pergeseran generasi, ketika tahun berganti. Secara organisasi, juga harus tetap luwes dalam menghadapi gempuran produk pesaing.

Kini iPhone dan Samsung berjaya, tetapi kita tidak tahu, ada inovasi apalagi yang akan diciptakan di masa datang. Jika tidak berhati-hati, iPhone dan Samsung bisa jadi akan ketinggalan dari produk pesaing yang saat ini mulai bermunculan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *